Senin, 10 Desember 2018

"Metode Pendidikan SPECIAL" (Metode Dialogis)


METODE PENDIDIKAN SPESIAL
"METODE DIALOGIS"
QS. As-Shafaat ayat 37: 102
Uswatun Khasanah
NIM. (2117107)
Kelas A

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN


2018



KATA PENGATAR

Puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan kita kehidupan yang sebaik-baiknya sampai sekarang ini. Sehingga makalah yang berjudul “METODE DIALOGIS” QS. Ash-Shafaat 37:102 bisa diselesaikan dengan baik. Sholawat serta sama yang tidak lupa kita junjungkan kepada nabi kita Nabi Muhammad saw yang kita tunggu syafa’atnya di hari akhir.
Mudah-mudahan makalah yang saya buat ini dapat dipahami oleh semua orang tertuma yang suka dalam membaca. Saya mohon maaf jika ada salah kata maupun salah ketik dalam makalah ini.
                                                            Pekalongan,2018
                                                                       
                                                                        Penulis



DAFTAR ISI
Kata Pengatar........................................................................................ i
Daftar isi ..............................................................................................ii
Bab I Pendahuluan
a.       Latar Belakang Masalah ...........................................................4
b.      Rumusan Masalah ....................................................................4
c.       Tujuan Penulis ..........................................................................4
Bab II Pembahasan
a.       Hakikat metode dialogis...........................................................5
b.      Tafsir metode dialogis...............................................................6
c.       Penerapan metode dialogis......................................................10
d.      Aspek tarbawi metode dialogis...............................................10
Bab III Penutup
a.       Kesimpulan..............................................................................11
Daftar Pustaka.....................................................................................12
Biodata Penulis...................................................................................13



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kisah-kisah dalam Al-Quran sarat dengan hikmah dan ibrah yang tidak akan habis tergali sampai kapanpun. Teladan yang abadi dicontohkan dalam sosok-sosok yang dikisahkan dalam Alquran, salah satunya sosok Nabiyullah Ibrahim as. Beliau adalah sosok seorang Rasul, pendidik, ayah dan suami yang sukses mendidik keluarga dan ummat. Tak ada lagi yang meragukan kualitas keimanan, keshalihan dan kepemimpinannya sebagai seorang Nabi, utusan Allah. Demikian juga dengan perannya sebagai ayah dan pendidik. Namun memang tidak mudah untuk memahami atau mencerna konsep-konsep pendidikannya dalam mendidik keluarga dan ummat.
Konsep-konsep pendidikan Nabi Ibrahim inilah yang akan kita coba kupas dan kita kaji untuk kita jadikan acuan dan teladan dalam pendidikan Islam dalam mendidik generasi penerus bangsa.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa hakikat dari metode dialogis?
2.      Apa dalil metode dialogis?
3.      Bagaimana implimentasi metode dialogis dalam pendidikan?
4.      Bagaimana aspek tarbawi dalam metode dialogis?
C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui hakikat dari metode dialogis.
2.      Untuk mengetahui dalil metode dialogis.
3.       Untuk mengetahui implimentasi metode dialogis dalam pendidikan.
4.       Untuk mengetahui aspek tarbawi dalam metode dialogis.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Dialogis
Metode dalam bahasa arab disebut dengan al-thariq, yang artinya jalan. Jalan adalah sesuatu yang dilalui supaya sampai ke tujuan. Mengajarkan materi pelajaran agar dapat diterima peserta didik hendaknya menggunakan jalan yang tepat, atau dalam bahasa yang lebih tepatnya cara dan upaya yang dilakukan pendidikan.[1]
Abu al-Fath al-Tawanisi mendefinisikan metode mengajar sebagi cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan informasi ke otak muurid-murid.
Kata ‘Dialog’ berasal dari bahasa yunani, yaitu dialogos, yang berarti percakapan. Dialog adalah sebuah proses yang di dalamnya terjadi komunikasi yang berbentuk percakapan atau diskusi untuk saling bertukar pikiraan dan opini-opini dari apa yang ada di pikiran individu. Dialog dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dialog secara langsung nampak dalam pertemuan antar pribadi. Dialog ini disebut dialog lisan. Sedangkan dialog secara tidak langsung adalah dialog melalui lisan.
Dalam dunia pendidikan, dialog antar guru dan murid sangatlah penting dalam menciptakan suasana yang harmonis, sehingga murid akan menikmati proses pembelajaran dengan rasa senang dan nyaman tanpa ada paksaaan dan ia akan muda memahami apa yang disampaikan oleh guru dengan melalui dialog berupa tanya jawab.

B.     Dalil metode dialogis QS. As-Shafaat ayat 37: 102
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (ibrahim) berkata, “wahai anak-anaku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (ismail) menjawab,” wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.
a.       Tafsir Al-Maraghi
فَلَمَّابَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ اِنِّى اَرَى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْمَاذَاتَرَى
Dan tatkala ismail menjadi besar, tumbuh dan dapat pergi bersama ayahnya berusaha melakukan pekerjaan-pekerjaan dan memenuhi keperluan-keperluan hidupnya, maka berkatalah ibrahim kepadanya, “Hai anaku, sesungguhnya aku telah bermimpi bahwa aku menyembelih kamu. Maka, bagaimanakah pendapatmu. Mimpinya itu dia ceritakan kepada anaknya, dia tahu bahwa yang diturunkan kepadanya adalah cobaan Allah. Sehingga, ia hendak meneguhkan hatinya kalau-kalau dia gusar dan hendak menenteramkan jiwanya untuk menunaikan penyembelihan, disamping agar dia menginginkan pahala Allah dengan tunduk kepada perintah-Nya.
Kemudian, Allah menerangkan bahwa ismail itu mendengar dan patuh serta tunduk kepada apa yang diperintahkan kepada ayahnya.
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
Ismail berkata, “Hai ayahku, engkau telah menyeru kepada anak yang mendengar, dan engkau telah meminta kepada anak yang mengambulkan dan engkau telah berhadapan dengan anak yang rela dengan cobaan dan putusan Allah. Maka, bapak tinggal melaksanakan saja yang diperintahkan, sedang aku hanyalah akan patuh dan tunduk kepada perintah, dan aku serahkan kepada Allah pahalanya, karena dialah cukup bagiku dan sebaik-baik tempat berserah diri.
Setelah ibrahim berbicara kepada anaknya dengan ucapannya, Ya bunayya, sebagai ungkapan kasih sayang, maka dijawab anaknya dengan mengucapkan Ya Abati, sebagai ungkapan tunduk dan hormat, dan menyerahkan urusan kepada ayahnya, sebagaimana yang dia rundingkan denganya. Dan bahwa kewajibannya hanyalah melaksanakan apa yang dipadang baik oleh ayahnya.
Kemudian, dia tegaskan tentang kepatuhanynya kepada perintah dengan katanya:
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Aku akan sabar menerima putusan dan sanggup menanggung penderitaan tanpa gusar dan tanpa gempar dengan apa yang telah ditakdirkan dan diputuskan. Dan memang benar-benar ismail menepati apa yang dia janjikan dan melaksanakan dengan baik kepatuhan dalam menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya.[2]
b.      Tarsir Al-Azhar
Maka setelah sampai anak itu dapat berjalan bersamanya.  Anak yang sudah dapat berjalan bersama ayahnya ialaah di antara ussia 10-15 tahun.  Keadaan itu diitonjolkan dalam ayat ini, untuk menunjukkan betapa tertumpahnya kasih ibrahim kepada anak itu. Di kala anakberusia sekitar 10 sampai 15 tahun, memanglah seorang ayah bangga sekali jika dapat berjalan bersama anaknya itu.
Suatu waktu dibawahlah ismail oleh ibrahim berjalan bersama-sama. Ditengah jalan; “Berkatalah dia: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasannya  akau meenyembelih engkau. Maka fikirkanlah, apa pendaptmu!”
Dengan kata-kata yang halus mendalam, si ayah berkata kepada si anak , yaitu ayah yang lebih tua, berusia lebih dari 90 taahun, dan anak yanag dihadapi adalah anak yang berpuluh tahun lamanya ditunggu-tunggu dan sangat diharapkan. Dalam pertanyaan ini Tuhaan telah meembayangkan kepadaa kita bagaimana seorang manusia yang terjadi dari darah dan daging, sebab itu merasa juga sedih dan rawan, tetapi tidak sedikit juga ragu atau bimbang bahwa dia adalah Nabi.
Disuruhnya anaknya memikirkan mimpinya itu dan kemudiaan diharapkannya anaknya menyatakan pendapat. Tentu ismail sejak dari mulai tumbuh akal telah mendengar, baik dari ibunya sendiri Hajar, atau orang lain di sekelilingnya, khadam-khadam dan orang-orang yang mengelilingi ayahnya, sebab ayahnyaa pun seorang yaang mampu, telah didengarnya jua siapa ayahnya. Tentu sudah didengarnya bagaimana ayah itu besediaa dibakar, malahan dengan tidak merasa ragu sedikit juaa puun dimasukinya api yang sedang menyala itu, karena dia yakin bahwa pendirian yang dia pertahankan adalah benara. Demikian pula mata-mata rantai dan percobaan hidup yang dihadapi oleh ayahnya, semuanya tentu sudah diketahuinya. Dan tentu sudah didengarnya juga bahwasannya mimpi ayahnya bukanlah semata-mata apa yang disebut rasian, yaitu khayalan kacau tak tentu ujung pangkal yang dialami orang sedang tidur. Oleh sebab itu tidaklah lama ismail merenungkan dan tidaklah lama dia tertegun buat mengeluarkan pendapat.
Berkata dia: yaitu ismail- “Ya Ayahku! Perbuatlah apa yang diperintahkan kepada engkau. Akan engkau dapati aku-insya Allah termasuk orang yang sabar.”[3]
c.       Tafsir Al-Mishbah
Ayat sebelum ini menguraikan janji Allah kepada Nabi Ibrahim as. Tentang perolehan anak. Demikianlah hingga tiba saatnya anak tersebut lahir dan tumbuh berkembang., maka tatkala ia yakni sang anak itu telah mencapai usia yang menjadikan ia mampu berusaha bersamanya yakni bersama Nabi Ibrahim, ia yakni Nabi Ibrahim berkata sambil memanggil anaknya dengan panggilan mesra: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu dan engkau tentu tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu Illahi. Jika demikian itu halnya, maka pikirkanlah apa pendapatmu tentang mimpi yang merupakan perintah Allah itu! Ia yakni sang anak menjawab dengan penuh hormat: “Hai bapakku, laksanakanlah apa yang sedang dan akan diperintahkankepadamu termasuk perintah menyembelihku; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk kelompok para penyabar.”
Nabi Ibrahim as. Menyampaikan mimpi itu kepada anaknya. Ini agaknya karena beliau memahami bahwa perintah tersebut tidak dinyatakan sebagai harus melaksanaknnya kepada sang anak. Yang perlu adalah bahwa ia berkehendak melakukannya. Bila ternyata sang anak membangkang, maka itu adalah urusan ia dengan Allah. Ia ketika itu akan dinilai durhaka, tidak ubahnya dengan anak Nabi Nuh as, yang membangkang nasihat orang tuanya.
Ayat diatas menggunakan bentuk kata kerja mudhari’ (masa kini dan datang) pada kata-kata (ارىara/saya melihat dan (اذبحك) adzbahuka/saya menyembelihmu. Demikian juga kata (تؤمر) tu’mar/diperintahkan. Ini untuk mengisyaratkan bahwa apa yang beliau lihat itu seakan-akan masih terlihat hingga saat penyampaiannya itu. Sedang penggunaan bentuk tersebut untuk kata menyembelihmu untuk mengisyaratkan bahwa perintah Allah yang dikandung mimpi itu belum selesai dilaksanakan, tetapi hendaknya segera dilaksanakan. Karena itu pula jawaban sang anak menggunakan kata kerja masa kini juga untuk mengisyaratkan bahwa ia siap, dan bahwa hendaknya sang ayah melaksanakn perintah Allah yang sedang maupun yang akan diterimanya.
Ucapan sang anak: (افمل ما تؤمرif’al ma tu’mar / laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, bukan berkata:”Sembelihlah aku”. Mengisyaratkan sebab kepatuhannya, yakni karena hal tersebut adalah perintah Allah swt. Bagaimanapun bentuk, cara dan kandungan apa yang diperintahkan –Nya, maka ia sepenuhnya pasrah,. Kalimat ini juga dapat merupakan obat pelipur lara bagi keduanya dalam menghadapi ujian berat itu.[4]

C.     Implementasi metode dialogis dalam pendidikan.
1.      Wajibnya taat dan berbakti pada orang tua selama dalam kebaikan.
2.      Ada balasan besar bagi orang yang berbuat ihsan, sabar dan taat kepada Allah.
3.      Mengarahkan anak pada jalan yang di ridhai Allah.
4.      Kecintan pada Allah mesti di kedepankan dari pada kecintaan pada istri dan anak.
5.      Orang yang beriman mesti diuji keimanannya.
D.    Aspek Tarbawi
Nilai-nilai yang terkandung dalam QS. As-Shafaat ayat 102 sebagai berikut:
1.      Pendidikan aqidah yang bisa diimplementasikan dari keimanan Nabi ibrahim dan Nabi ismail terhadap Allah swt.
2.      Pendidikan akhlak menunjukkan tingginya akhlak dan sopan santun ismail kepada orang tua dan Allah.
3.      Pendidikan spiritual yang berlandaskan dialogis, artinya ibrahim memberitahukan ismail tentang mimpinya agar dapat dipahami oleh ismail yang masih remaja. Cara berdialog ini melatih untuk berargumentasi, ketangguhan dan keteguhan untuk patuh kepada Allah dan orang tua.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Metode dalam bahasa arab disebut dengan al-thariq, yang artinya jalan. Kata ‘Dialog’ berasal dari bahasa yunani, yaitu dialogos, yang berarti percakapan. Jadi metode dialogis adalah sebuah proses yang di dalamnya terjadi komunikasi yang berbentuk percakapan atau diskusi untuk saling bertukar pikiraan dan opini-opini dari apa yang ada di pikiran individu.



DAFTAR PUSTAKA
Mushthafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (semarang: CV Toha Putra, 1989)
Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 2005).
Quraish M. Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lenteran Hati, 2002)
Nizar, Samsul dan Zaenal Efendi, Hadis Tarbawi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011)



BIOGRAFI PENULIS

Nama          : Uswatun Khasanah
TTL            : Batang, 1 maret 1999
Alamat        : Ds. Wonokerso, Kandeman, Batang.
No hp                   : 085803109308
Status                   : Mahasiswa IAIN Pekalongan / Wiraswasta
Moto hidup : Legowo.



[1] Nizar, samsul dan Zaenal Efendi, Hadis Tarbawi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011)
[2] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (semarang: CV Toha Putra, 1989), hlm., 199-120
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: PT  Pustaka Panjimas, 2005), hlm., 143
[4] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lenteran Hati, 2002), hlm., 62-63

"Metode Pendidikan SPECIAL" (Metode Tanya Jawab)

METODE PENDIDIKAN SPECIAL
METODE TANYA JAWAB
Q.S AL- BAQARAH 2:189

PUTRI MARINDA AMINI
NIM. (2117014)
Kelas: D



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018



KATA PENGANTAR

Puji syukur Saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT  yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua, sehingga saya  dapat menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “METODE PENDIDIKAN SPECIAL
(METODE TANYA JAWAB) Dalam Q.S. AL – BAQARAH 2:189”. Sholawat serta salam tak lupa pula kami haturkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad saw yang telah membawa kita semua dari alam kejahilan kealam yang terang benderang yang disinari oleh ilmu pengetahuan, iman, dan islam. Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Muhammad Hufron, M.S.I. selaku dosen pengampu mata kuliah TAFSIR TARBAWI.
Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi-materi yang ada.Kami sadar dalam penulisan makalah ini, masih banyak kekurangan.Untuk itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun.Materi- materi ini bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa dalam memahami. Mudah-mudahan dengan  mempelajari makalah ini, para mahasiswa akan mampu mengamalkan isi dari makalah ini.

Pekalongan, 19 November 2018



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Permasalahan yang seringkali kita jumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama islam. Kita sebagai pendidik tertuju bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Disamping masalah lainya yang sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik. Metode Tanya Jawab dalam konteks pembelajaran umum dapat mengajak, mendorong atau juga bisa mengarahkan untuk siswa melakukan hal baik, positif / sesuatu yang  membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya suatu hubungan dalam hal interaksi dalam lingkungan sosial maupun lingkungan agamanya.

B.   Rumusan Masalah

1)    Apa Hakikat Metode Tanya Jawab?
2)    Bagaimana Dalil tentang Metode Tanya Jawab?
3)    Apa Isi dari Implementasi Metode Tanya Jawab dalam pendidikan?


BAB II
PEMBAHASAN
A.   Hakikat Metode Tanya Jawab

1.     Pengertian Metode Tanya Jawab
Menurut bahasa, istilah metode berasal dari kata meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode dapat diartikn cara atau jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah thariqah dan juga sering diungkapkan dengan istilah al – manhaj dan al – washilah yang berarti sistem dan perantara atau mediator.[1] Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.[2]
Metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan. Dalam kegiatan belajar mengajar melalui tanya jawab, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan atau siswa diberikan kesempatan untuk bertanya terlebih dahulu pada saat dimulai pelajaran, pada saat pertengahan dan pada akhir pelajaran.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, karena metode ini tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap murid untuk menjawab pertanyaan. Metode tanya jawab dapat dipakai oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah anak didik yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang diberikan.
Anak didik yang biasanya kurang mencurahkan perhatiannya terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode ceramah akan berhati-hati terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode tanya jawab. Sebab anak didik tersebut sewaktu-waktu akan mendapatkan giliran untuk menjawab suatu pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, Karena metode tanya jawab tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap pelajar untuk menjawab pertanyaan. Hal itu disebabkan karena pelajar yang dapat menjawab pertanyaan hanyalah pelajar yang maksimal dalam belajarnya.[3]
Untuk menghindari sesuatu yang dapat terjadi dalam metode tanya jawab terutama yang bersifat negatif maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.     Pertanyaan harus singkat, jelas dan merangsang berfikir
2.     Sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan anak didik yang menerima pertanyaan
3.     Memerlukan jawaban dalam bentuk kalimat atau uraian kecuali yang bersifat objektif tes dapat menggunakan ya atau tidak
4.     Usahakan pertanyaan yang punya jawaban pasti bukan pertanyaan yang mempunyai jawaban beberapa alternatif.

Teknik mengajukan pertanyaan :
a.      Mula-mula diajukan kepada semua anak didik baru ditanyakan kepada anak didik tertentu.
b.     Berikan waktu untuk berfikir dan menyusun jawaban.
c.      Pertanyaan diajukan bergilir, jangan berdasarkan urutan bangku atau urutan daftar yang telah disusun (daftar hadir).

2.     Tujuan Metode Tanya Jawab:
a.      Mengecek dan mengetahui sampai sejauh mana kemampuan anak didik terhadap pelajaran yang dikuasai.
b.     Memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang suatu masalah yang belum difahami.
c.      Memotivasi dan menimbulkan kompetensi belajar.
d.     Melatih anak didik untuk berfikir dan berbicara secara sitematis berdasarkan pemikiran yang sebenarnya.

3.     Kelebihan dan Kelemahan Metode Tanya Jawab
·        Kelebihannya Metode Tanya Jawab :
a.   Kelas akan hidup karena anak didik aktif berfikir dan menyampaikan pikiran melalui berbicara.
b.   Baik sekali untuk melatih anak didik agar berani mengemukakan pendapatnya.
c.   Akan membawa kelas kedalam suasana diskusi.
d.   Melatih peserta didik untuk berfikir dan berbicara secara sistematis.
e.  Memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan unuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang suatu masalah yang belum dipahami.


·        Kelemahan Metode Tanya Jawab :
a.     Waktu yang digunakan dalam pelajaran tersita dan kurang dikontrol secara baik oleh guru karena banyaknya pertanyaan yang timbul dari siswa.
b.     Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian siswa bilamana terdapat pertanyaan atau jawaban yang tidak berkenan dengan sasaran yang dibicarakan.
c.      Jalannya pengajaran kurang dapat terkoordinir secara baik, karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang mungkin tidak dapat dijawab secara tepat, baik oleh guru maupun oleh siswa.
d.     Bagi siswa yang tidak aktif atau jarang bertannya bahkan tidak pernah, terkadang menjadi malu kepada teman-temannya.
e.      Menimbulkan rasa gugup pada peserta didik yang tidak memiliki keberanian menjawab dan bertanya ( kemampuan lisan).

Dan untuk menggunakan metode tanya jawab, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.     Rumuskan tujuan pengajaran secara spesifik yang berpangkal pada tingkah laku siswa.
2.     Guru melakukan pertanyaan dari hal-hal yang sederhana kemudian dilanjutkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang materi yang dibicarakan.[4]

B.   Dalil tentang Metode Tanya Jawab
QS. Al-Baqarah Ayat 189 :
يَسْأَلُونَكَعَنِالْأَهِلَّةِ ۖ قُلْهِيَمَوَاقِيتُلِلنَّاسِوَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَالْبِرُّبِأَنْتَأْتُواالْبُيُوتَمِنْظُهُورِهَاوَلَٰكِنَّالْبِرَّمَاتَّقَىٰ ۗ وَأْتُواالْبُيُوتَمِنْأَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Al-Baqarah, 2:189)
Tafsiran Ayat :
1)    Al-Misbah
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, mengapa bulan pada mulanya terlihat seperti sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi, sampai menghilang dari pandangan? Katakanlah, “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, waktu dalam penggunaan Al-Qur’an adalah batas akhir peluang untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Ia adalah kadar tertantu dari masa ke masa. Dengan keadaan bulan seperti itu manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya sehingga dapat terlaksana sesuai dengan waktu yang tersedia, tidak terlambat, apalagi terabaikan dengan berlalunya waktu, dan juga untuk pelaksanaan ibadah haji.

Kembali kepada pertanyaan sahabat Nabi di atas, al-Qur’an tidak menjawabnya sesuai dengan harapan mereka, tetapi memberi jawaban lain yang lebih sesuai dengan kepentingan mereka. Hal serupa banyak terjadi dengan tujuan mengingatkan padanya bahwa ada yang lebih wajar ditanyakan daripada yang diajukan. Memang Al-Qur’an adalah salah satu bentuk pendidikannya adalah mengarahkan mereka melalui jawaban-jawabannya.
Allah menegaskan bahwa, bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan ialah kebajikan orang yang bertakwa, atau kebajikan adalah siapa yang menghindar dari kebiasaan dan pertanyaan yang serupa dengan yang dinyatakan di atas dan dalam kondisi yang serupa pula. Karena itu masuklah ke rumah-rumah itu dari pimtunya. Bertakwalah kepada Allah, berarti laksanakan tuntutan-Nya sepanjang kemampuan kamu dan jauhi larangan-Nya agar kamu beruntung.[5]
2)    Jalalain

يَسْأَلُونَكَعَنِالْأَهِلَّةِ ۖ قُلْهِيَمَوَاقِيتُلِلنَّاسِوَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَالْبِرُّبِأَنْتَأْتُواالْبُيُوتَمِنْظُهُورِهَاوَلَٰكِنَّالْبِرَّمَاتَّقَىٰ ۗ وَأْتُواالْبُيُوتَمِنْأَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ
          (Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad, (tentang bulan sabit). 'Ahillah' jamak dari 'hilal'. Pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga penuh dengan cahaya. Lalu kembali sebagaimana semula, maka keadaannya tidak seperti matahari yang tetap (katakanlah) kepada mereka, ("Ia adalah tanda-tanda waktu); mawaaqiit jamak dari miiqaat (bagi manusia) untuk mengetahui waktu bercocok tanam, berdagang, idah wanita, berpuasa, dan berbuka mereka (dan bagi haji) diathafkan atau dihubungkan kepada manusia, artinya untuk diketahui waktunya. Karena seandainya bulan tetap dalam keadaan yang sama, tentulah hal itu tidak dapat diketahui (Dan bukanlah kebaktian, jika kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya) yakni di waktu ihram, dengan membuat lubang di belakang rumah untuk tempat keluar masuk kamu dengan meninggalkan pintu. Hal itu biasa mereka lakukan dulu dan mereka anggap sebagai kebaktian, (tetapi kebaktian itu), maksudnya orang yang berbakti (ialah orang yang bertakwa) kepada Allah dengan tidak melanggar perintah-perintah-Nya, (dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya) baik sewaktu ihram maupun pada waktu-waktu lainnya, (dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh keberuntungan").[6]
3)    Al-Azhar
Mereka bertanya kepada engkau dari hal bulan sabit. Katakanlah: dia itu adalah waktu-waktu yang ditentukan untuk manusia dan untuk haji. (pangkal ayat 189). Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Belia berikan jawaban yang sesuai dengfan kewajiban beliau sebagai Rasul, sehingga kesanalah perhatian yang bertanya dibawa. Maka beliau katakanlah bahwasanya bulan terbit dengan keadaan yang demikian itu membawa hikmat yang penting sekali buat kita. Bulan sabit adalah untuki menentukan waktu bagi manusia. Dengan bulan yang demikian halnya manusia dapat menentukan iddah perempuan setelah bercerai, kapan waktu puasa, sampai pada waktu hari raya dan mengeluarkan zakat sekali setahun, sampai kepada waktu mengerjakan haji.
Kemudian datanglah sambungan ayat: “dan tidaklah kebajikan itu bahwa kamu masuk ke rumah kamu dari belakangnya, tetapi yang kebajikan ialah barang siapa yang bertakwa”. Menurut penafsiran dari penafsir Abu Ubaidah bahwa sambungan ini adalah senafas dengan yang sebelumnya, yaitu kalau hendak masuk ke dalam rumahmu janganlah dari pintu belakang. Maksudnya kalau hendak menanyakan sesuatu hal kepada seseorang hendaklah piulih soal yang pantas dijawab . kalau hendak menanyakan mengapa bulan mulanya laksana sabit, lama lama penuh dan khirnya kecil sebagai sabit lagi, janganlah hal itu ditanyakan kepada Nabi, tetapi tanyakanlah pada ahli falak. Tetapi kalau ditanyakan kepada Nabi apa hikmat yang dapat diambil dari peredaran bulan demikian, akan dapatlah dijawab oleh Nabi menurut selayaknya dan dapat sepadan dengan beliau. Selanjutnya Tuhan berfirman: “Dan datanglah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan takwalah kepada Allah, supaya kamu beroleh kejayaan.” (ujung ayat 189).[7]
4)    Al-Maraghi
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hikmah berbeda-bedanya bentuk hilal dan faedahnya. Kemudian Rasulullah menjawab hilal itu adalah tanda-tanda bagi umat manusia di dalam menentukan urusan dunia mereka. Dengan hilal tersebut mereka mengetahui waktu mana yang paling tepat untuk melakukan cocok tanam atau berdagang. Hilal juga merupakan tanda-tanda waktu ibadah. Mereka bisa mentukan bulan Ramadhan dan saat berakhirnya bulan puasa. Terutama sekali, hilal itu dipakai untuk menentukan waktu haji.
Imam Bukhori dan Ibnu Jahir dari Al-Barra’ menceritakan bahwa orang-orang Arab di masa jahiliyyah jika melakukan ihram harus memasuki rumah nya dari pintu belakang. Kemudia turunlah ayat ini.
Setelah Allah memberitahukan kesalahan yang mereka lakukan, yakni dalam hal memasuki rumah dari belakang, dan dugaan mereka bahwa hal tersebut termasuk amal kebajikan yang hakiki. Kebajikan yang hakiki adalah takwa kepada Allah dengan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan kotor, serta menghiasi diri dengan keutamaan-keutamaan, dan mengikuti kebenaran-kebenaran dan beramal kebajikan. Datangilah rumah kalian dari depan, dan hendaklah batin kalian adalah cermin lahiriyah, dan bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan.[8]
5)    Al-Lubab
          Ayat 189 menjawab pertanyaan tentang bulan mengaapa bermula terlihat sabit kemudian membesar menjadi purnama, lalu kembali menjadi sabit lagi, dan menghilang dari pandangan. “Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia sekaligus untuk penetapan waktu melaksanakan haji”, demikian jawaban Allah swt. Ini disusul dengan perintah masuk di pintu-pintu depan rumah, bukan meloncat ke atap atau membobol tembok dari belakang, sebagaimana adat kebiasaan sementara kaum musyrik ketika mereka selesai melaksanakan haji.[9]

C.   Implementasi Metode Tanya Jawab dalam Pendidikan
1)    Aplikasi dalam Kehidupan
Di dalam menuntut ilmu, kita diharuskan menanyakan apa yang belum kita pahami, karena jika kita berusaha menafsirkan sendiri, maka kita mungkin bisa saja tersesat dalam menuntut ilmu. Di dalam menanyakan atau menjawab sesuatu itu juga harus ada tata cara dan harus sopan di dalam bertanya maupun menjawabnya.
Doa meminta dipahamkan ilmu perlu senantiasa diucapkan, dan memohon kepada Allah agar ilmu itu ditambahNya, sebab Allah-lah sumber segala ilmu.

2)    Aspek Tarbawi.
a.     Dalam menuntut ilmu itu hendaknya selalu berdoa kepada Allah agar ilmu yang kita terima tidak menyimpang dan sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
b.     Didalam menuntut ilmu, hendaknya belajar untuk bertanya. Jangan takut dianggap tidak paham oleh orang lain. Yang penting ilmu yang diterima itu benar.
c.      Didalam menuntut ilmu, hendaknya juga harus mengamalkannya kepada orang lain, agar tidak hanya bermanfaat bagi kita saja, tetapi bermanfaat untuk orang lain. Selain itu agar kita tidak lupa ilmu yang sudah kita pelajari.
d.     Setelah kita berusaha dalam menuntut ilmu, kita selalu bertawakal kepada Allah karena hal yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya. Mungkin ada hal baik yang sudah direncanakan oleh Allah.
e.      Selalu berusaha dan tidak langsung pasrah dengan kehidupan yang buruk atau masih diberi cobaan oleh Allah. Kita harus tetap optimis.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.
Dalam Tafsir Al-Maraghi, surat Al-Baqarah ayat 189 menjelaskan tentang Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Beliau berikan jawaban yang sesuai dengan kewajiban beliau sebagai Rasul. Yang intinya yaitu bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita tidak mengetahui akan suatu ilmu, hendaknya kita menanyakannya pada orang yang lebih mengetahui atau kepada para ahlinya. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk tidak malu dalam bertanya, agar bertambahnya wawasan kita.
Aspek Tarbawi yang bisa kita ambil dalam surat Al-Baqarah ayat 189, Hendaknya bersemangat dalam mencari ilmu, supaya bertambahnya wawasan kita, dan menanyakan sesuatu kepada yang ahlinya.dalam menuntut ilmu itu, harus berani bertanya apabila ada ilmu yang belum dapat dipahami. Jangan malu untuk bertanya. Dan Rasulullah SAW juga memberikan contoh kepada kita untuk  mengamalkan ilmunya agar bermanfaat untuk orang lain dan juga agar kita tidak lupa akan ilmu yang kita pelajari.

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam, Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ustman, Basyirudin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. JakartaPT. Intermasa.
Drajat, Zakiah dkk. 1995.  Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. JakartaBumi Aksara.
Shihab,M.Quraisy. 2005. Tafsir Al-Mishbah. TangerangPenerbit Lentera Hati.
Jalaluddin, Imam Al-Mahalli dan imam Jalaludin As-Suyuti. 2010.Terjemahan Tafsir Jalalain. BandungSinar Baru Algesindo.
Hamka. 2002. Tafsir Al – Azhar juz 11. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mustofa, Al-Maraghi Ahmad. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang.PT. Karya Toha Putra Semarang.
Shihab,M.Quraish.2012. Tafsir Al-Lubab. Jakarta. Lentera Hati.


PROFIL

Nama                     : Putri Marinda Amini
Nim                        : 2117014
Tempat, Tanggal Lahir : Tegal, 21 Agustus 1999
Alamat                             :  Jl. Rambutan X  No.4 Tegal
Riwayat Pendidikan         : 
-         SDIT Usamah Tegal
-         MtsN Margadana Tegal
-         MAN Tegal
-         IAIN Pekalongan (Masih)



[1] Heri Gunawan, Pendidikan Islam, Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014) hlm225 - 226
[2] Basyirudin Utsman, Metodologi pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: PT.Intermasa,2002), hlm. 43
[3] Zakiah Drajat,dkkMetodik Khusus Pengajaran Agama Islam(Jakarta:Bumi aksara, 1995), hlm. 307

[4] Op. Cit, hlm. 44
[5]  M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2005), hlm. 417-419
[6]  Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaludin As-Suyuti,Terjemahan Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2010),hlm. 119
[7] Hamka, Tafsir Al-Azhar Jus II, ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002 ), hlm. 148-150
[8] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,(Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1993), hlm. 146-151
[9]  M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Lubab, (Jakarta: Lentera Hati,2012), hlm. 60-51

"Metode Pendidikan SPECIAL" (Metode Dialogis)

METODE PENDIDIKAN SPESIAL "METODE DIALOGIS" QS. As-Shafaat ayat 37: 102 Uswatun Khasanah NIM. (2117107) Kelas A ...