KEDUDUKAN ILMU PENGETAHUAN
(HIKMAH ANUGRAH ALLAH)
Q.S AL-BAQARAH AYAT 269
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen
Pengampu : Muhammad Hufron,M.S.I
Disusun oleh :
1.
Hilda Maritasolihah (2021116297)
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala puji syukur penulis panjatkan atas
kehadirat Allah SWT, karena dengan Rahmat dan Karunia-Nya kami dapat
mrnyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi tentang
Hikmah Anugrah Allah.
Shalawat serta salam semohga tetap tercurahkan kepada
baginda nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman
jahiliyah menuju zaman yang penuh ukhuwah islamiyah ini.
Akhirnya
dengan segala kerendahan hati, penyusun mengakui masih banyak terdapat
kejanggalan – kejanggalan dan kekurangan dalam makalah ini. Hal ini disebabkan
kurangnya ilmu pengetahuan dan pengalaman yang penyusun miliki. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat penyusun harapkan demi
kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
Penulis juga berharap makalah ini
mudah-mudahan berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin
tak ada gading yang retak begitu penyusun makalah ini, sekian dan terimakasih.
Selamat
membaca
Pekalongan, 2 September 2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dari mana asal muasal datangnya ilmu seperti itu.
Tidak ada keterangan pasti atau refrensi yang dapat dipercaya yang mampu menjelaskan
asal muasal datangnya ilmu yang mereka sebut ilmu hikmah. Ilmu hikmah bukanlah
ilmu tasawuf, dan juga bukan semacam karamah. Tapi kalau ilmu hikmah diamalkan
sesuai atuuran, akan membawa hasil yang diharapkan, tidak peduli apakah yang
mengamalkan itu orang baik, setengah baik, atau tidak baik (orang jahat).
Apabila kita memperhatikan definisi ilmu hikmah yang
disampaikan oleh para ulama, maka kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu hikmah itu
ada sumbernya, yaitu Al-Quran dan Al- Hadits. Keduanya merupakan referensi ilmu
hikmah yang sebenarnya.
Dalam hal ini pentingnya makalah dibahas karena kita
sebagai manusia yang memiliki ilmu tersebut sehingga kita mampu sebagai
golongan orang-orang yang mendapatkan hikmah dari Allah.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian
Hakikat Ilmu Hikmah ?
2. Bagaimana Dalil
Ahli Ilmu Hikmah Anugrah besar dari Allah SWT ?
3. Bagaimana Ilmu
Hikmah sebagai Filsafat ?
C.
Tujuan
1. Agar dapat menjelaskan
pengertian Hakikat Ilmu Hikmah
2. Agar dapat menjelaskan Dalil Ahli Ilmu Hikmah
Anugrah besar dari Allah SWT
3. Agar dapat menjelaskan Ilmu Hikmah
sebagai Filsafat
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Ilmu Hikmah
Ilmu hikmah adalah suatu amalan spiritual yang
berupa ayat al-qur’an, doa-doa tertentu, hizib atau mantra-mantra suci yang
berbahasa arab dan diimbangi dan tingkah laku batin untuk mendekatkan diri
kepada Allah dan membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati. Yang disebut
mantra suci adalah mantra yang isi kandungannya tidak melanggar syariat islam.
Ilmu hikmah bisa dipelajari dengan amalan berupa dzikir, tabarruk, menyendiri,
membersihkan hati, bersikap bijaksana atau riyadlah tertentu sesuai ajaran para
guru atau ulama(mujiz).[1]
Ilmu hikmah banyak sekali manfaatnya, mencakup
segala urusan dunia dan akhirat. Ilmu hikmah bisa untuk menyelesaikan berbagai
macam masalah kehidupan, membantu kita kuat dalam mengarungi kehidupan yang
penuh cobaan. Kunci dalam ilmu hikmah adalah memohon pertolongan dan rahmat
dari Allah agar dalam memjalani hidup didunia kita diberi keselamatan,
kelancaran, kesuksesan, kemudahan, kebahagiaan dan segala hal baik yang kita
butuhkan. Juga dalam perjalanan kita diakhirat nanti diberi kelancaran. Oleh
karena itu, inti dari Ilmu Hikmah sebenarnya adalah mendekatkan diri dan
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Hingga kita sama sekali tidak merasa
punya kehebatan. Karena upaya yang mampu hamba lakukan kecuali karena adanya
Allah semata.
Al-Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan dan
kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Al-Hikmah merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu
yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.[2]
B. Dalil
Ahli Ilmu Hikmah Anugrah besar dari Allah SWT
1. Tafsir QS. Al Baqarah ayat 269
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَآءُ ۚ
وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ
إِلَّآ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dia
kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang
banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang
mempunyai akal sehat.”[3]
Dalam Al- Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 ini penting untuk dikaji agar kita
sebagai hamba Allah yang telah di beri akal olehNya, bisa mempergunakan akal
yang kita miliki itu dengan baik dan dapat mengamalkan ilmu yang kita dapat
dari hasil mempergunakan akal dengan baik tersebut, karena ilmu yang bermanfaat
adalah ilmu yang kita amalkan untuk diri kita sendiri dan orang lain.
Mufrodat :
يُؤْتِى
=
Dia memberikan
الْحِكْمَةَ = Hikmah
يَشآءُ = Dia kehendaki
خَيْرًا = Kebajikan
يَذَّكَّرُ = Mengambil pelajaran
2. Penjelasan Tafsir
269. a. Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman
yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Hikmat itu lebih luas daripada ilmu, bahkan ujung daripada ilmu adalah
permulaan hikmat. Hikmat boleh juga diartikan mengetahui yang tersirat di
belakang yang tersurat, menilik yang ghaib dari yang terlihat nyata, mengetahui
akan kepastian ujung karena telah melihat pangkal.
Menurut Syaikh Muhammad Abduh, bahwasanya hikmat
itu adalah ilmu yang sah, yang dapat dipertanggung-jawabkan, yang telah
sangat mendalam pengaruhnya di dalam diri sendiri, sehingga dia yang menentukan
iradah dan kemauan, untuk memilih apa yang dikerjakan. Kalau suatu amal
perbuatan benar-benar timbul daripada ilmu yang shahih, maka amal itu akan
menjadi amal yang shahih, yang memberi faedah dan membawa orang kepada
kebahagiaan.[4]
Allah memberikan ilmu yang berguna yang bisa
membangkitkan kemauan kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, sehingga ia
dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, lalu dengan mudah dapat
ia membedakan antara ilham yang datang dari Allah dan bisikan setan. Allah memberikan hikmat kepada barang siapa yang dikehendaki Nya ; artinya
ialah diberi alat budi itu, diantara makhluk ini, hanyalah manusia saja. Maka
akal yang cerdas itu adalah alat yang seampuh-ampuhnya untuk memperdalam ilmu
yang sejati. Akal adalah alat penimbang, penyisihkan di antara agak-agak dengan
kesimpulan yang benar. Penyisihkan di antara mana yang dapat diketahui dan
difahami dan mana yang meminta renungan panjang. Kalau akal sudah bekerja dan
memberi hasil yang baik, maka segala keraagu-raguan, faham, daan agak-agak
menjadi hilang, dan mudahlah membedakan mana yang was-was dan mana ilmu yang
dapat dipertanggung jawabkan.
Penangkapan ilmu ialah akal, yang menangkap pengertian berdasarkan
dalil-dalil dan memahaminya dengan sebenarnya. Dan siapa yang diberi pengetahuan
seperti ini, nisyaca mampu membedakan antara janji Tuhan dan janji setan, mampu
memegang teguhjanji Allah dan melemparkan janji setan.[5]
269. b. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah
dianugerahi karunia yang banyak.
Barang siapa yang diberi ilmu yang berguna dan
diberi petunjuk cara menggunakan akal serta menempuh arah yang benar, maka
orang ini berarti mendapatkan petunjuk dan kebaikan di dunia dan diakhirat. Karena
itu ia dapat menggunakan potensi-potensi yang ada dalam dirinya, seperti
penglihatan, pendengaran, hati dan pikirannya secara berdaya guna dan
menyiapkan untuk kesenangannyayang benar, lalu berserah diri kepada Allah
karena Dialah asal segala sesuatu dan kepada-Nya lah semua akan berakhir. Dia tidak mau menerima bisikan-bisikan setan dan mengotori dirinya sendiri
dengan berbuat dosa.[6]
Siapa saja yang telah diberi taufik (pertolongan Allah) akan mengerti
mengenai ilmu yang bermanfaat ini. Ia juga akan dituntun oleh Allah untuk
menggunakan akalnya secara sehat dan diarahkan ke jalan yang benar. Ini berarti
ia telah mendapatkan kebaikan dunia akhirat.[7]
Kekayaan sejati ialah hikmat yang diberikan Allah. Kecerdasan akal,
keluasan ilmu, ketinggian budi, kesanggupan menyesuaikan diri dengan
masyarakat; itulah kekayaan yang sangat banyak. Betapapun orang menjadi kaya
raya, jutawan yang harta-bendanya berlimpah-limpah, kalau dia tidak dianugerahi
oleh Allah hikmat, samalah artinya dengan orang miskin. Sebab ia tidak sanggup
dan tidak mempunyai pertimbangan yang sehat, buat apa harta bendanya itu akan
dikeluarkan.
269. c. Dan hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil
pelajaran (dari firman Allah).
Tidak akan bisa mengambil hakikat dari ilmu
pengetahuan dan bisa terpengaruh oleh ilmu itu, hingga kehendaknya bisa
dikendalikan dan tunduk kepada kemauannya, melainkan hanya orang-orang yang
mempunyai akal sehat dan berjiwa luhur, yang mampu menyelami hakikat kenyataan.
Dengan ilmu pengetahuan, mereka mampu memilih
hakikat kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya, yang bisa membuat dirinya
bahagia dalam kehidupan ini, sekaligus bisa meniti tangga kebahagiaan ukhrawi.[8]
Orang yang mempunyai inti-fikiranlah cuma yang akan mengerti soal yang
penting ini. Orang yang fikirannya hanya terhadap mengumpulkan benda, yang
memandang bahwa kekayaan ialah kesanggupan mengumpulkan harta benda belaka,
tidaklah akan mengingat ini. tujuan hidupnya hanya berkisar pada Tuhan kepada
harta. Sebab itu maka hidupnya tidaklah akan memberi faedah dan manfaat kepada
sesamanya manusia daan hari depannya pun gelap gulita.
C. Ilmu
Hikmah sebagai Filsafat
kita
bisa memahami proyek filsafat hikmah secara utuh dan ringkas. Untuk menjelaskan
proyek filsafat hikmah, makalah ini akan berpijak pada rumusan-rumusan Mulla
Shadra dan Allamah Thabathaba`i. Ada beberapa langkah menarik yang diambil oleh
Mulla Shadra, untuk merumuskan kompleksitas proyek filsafat hikmah dengan
segenap implikasinya.
Pertama,
meletakkan sistem filsafat hikmah di atas sejumlah dasar pengetahuan hudhûri/badîhi,
sambil menegaskan bahwa semua dasar itu bersifat swabukti (self-evident).
Dasar-dasar swabukti tidak memerlukan pembuktian (barhanah) atau pengukuhan (itsbât),
melainkan hanya memerlukan pemaparan atau penjelasan. Kedua,
menurunkan sejumlah prinsip rasional-filosofis untuk mendukung bangunan
filsafatnya dari prinsip-prinsip swabukti yang telah diketahui manusia secara hudhûri
tersebut. Ketiga,
menyelaraskan prinsip-prinsip rasional-filosofis yang bersumber pada
prinsip-prinsip swabukti dengan sejumlah mukâsyafah (penyingkapan batin)
para mistikus. Kategori pengetahuan ini juga sering disebut dengan ilmu gaib
atau ilmu laduni.
Keempat,
menyelaraskan prinsip-prinsip rasional-filosofis dan mukâsyafah
dengan teks-teks suci dalam rangka memperteguh dan memperluas bangunan filsafat
hikmah. Kelima,
mengajukan metodologi sistematis untuk mencapai kebenaran utuh sebagaimana
tersebut di atas secara teoretis dan praktis. Dalam sistem filsafat hikmah,
metode rasional-filosofis tidak bisa berdiri secara terpisah dari metode penyucian
hati dan begitu pula sebaliknya; keduanya saling membutuhkan, sedemikian
sehingga bila yang satu berjalan tanpa yang lain maka kerancuan dan kesesatan
akan terjadi.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Allah SWT. memerintahkan hambaNya untuk menuntut ilmu dan menggunakan akal
sehatnya dalam menjalankan segala sesuatu, dan mengamalkan segala sesuatu yang
dimilikinya, termasuk ilmu itu sendiri. Orang-orang ahli ilmu memiliki
kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT., dan ilmu pengetahuan pun memiliki
kedudukan dalam agama Islam.
Dari Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 dapat dipetik pelajaran yang
sangat berharga, yaitu : bahwa dengan ilmu pengetahuan, setiap manusia mampu
memilih hakikat kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya, yang membuat dirinya
bahagia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, serta keutamaan akal, bahwa
orang yang tidak dapat mengambil pelajaran, menunjukan akan adanya kekurangan
pada akalnya, yaitu akal sehat, akal yang memberikan petunjuk pada dirinya.
Dari tafsiran Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 269 dapat di aplikasikan di dalam
kehidupan yaitu salah satunya dengan menuntut ilmu dan menjadi pendidik untuk
mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki agar menjadi ilmu yang bermanfaat.
B. Saran
Kami yakin dalam pembuatan makalah ini masih ada banyak
kekurangan dan kesalahan oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan.Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis
khususnya berupa penambahan wawasan tentang
: Hikmah Anugerah Allah.
Kami hanya manusia biasa yang tidak terlepas dari
kekurangan, maka dari itu kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan
maupun yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad
Musthofa, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi penterjemah Drs. M. Thalib, cet.1 (Yogyakarta:
Sumber Ilmu, 1986).
Al-Maraghi, Ahmad
Musthofa, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi penterjemah Drs. M. Thalib,cet.2., (Bandung:
ROSDA, 1987).
Al-Maraghi, Ahmad
Musthofa, Terjemah Tafsir Al-Maraghi 3 penterjemah Bahrun Abubakar, Lc.
Dkk., (Semarang: Karya Toha Putra, 1993).
Al-Maraghi, Ahmad
Musthofa, Terjemah Al Maraghia 3 penterjemah K. Anshori Umar, Dkk., (Semarang:
Karya Toha Putra, 1987).
Al-Qur’an, Tafsir Wa Bayan,
Amrullah, Malik Karim
Abdul, Tafsir Al Azhar juz III, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983)
Kementrian Agama RI, Al-Qur’an
dan Terjamahnya (Jakarta: CV Darus Sunnah, 2014)
KH. Musyadad, Cara Mudah
Menjadi Para normal, Penerbit CV. Aneka Solo, 2000.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar